Feeds:
Posts
Comments

Archive for May, 2008

(gambar dari http://www.soya.be)

Sebagai pecinta minuman sehat, termasuk susu kedelai, Koenjit lagi kesengsem berat nih sama satu produk susu kedelai kemasan, Lactasoy. Biasanya, susu kedelai yang dijual komersil rasanya kurang enak, dibandingkan dengan susu kedelai buatan sendiri. Tapi yang satu ini, rasanya mantap ! Cukup kental untuk ukuran susu kedelai komersil. Selain itu, Lactasoy ini mengeluarkan varian yang unik-unik selain rasa original, seperti soy milk plus green tea, soy milk plus black sesame, dan soy milk plus collagen. Favorit Koenjit adalah soy milk plus green tea karena rasa teh hijaunya yang terasa pas dan sama sekali tidak eneg.

Nah, varian soy milk plus black sesame atau wijen hitam disinyalir kaya akan kalsium dan vitamin B2, D, E, dan senyawa besi. Rasanya ? Rasa kuaci ! Sulit kan membayangkan susu rasa kuaci ? Jika Anda penasaran, silahkan coba sendiri. Sedangkan untuk yang varian soy milk plus collagen menurut Koenjit rasanya agak ‘berat’ (baca : terasa lebih berlemak). Mungkin rasa ‘berlemak’ itu dihasilkan dari kandungan collagen-nya. Tapi rasanya sih tidak terlalu jauh berbeda dengan rasa original.

Oh iya, jangan takut, walaupun Lactasoy ini merupakan produk impor dari Thailand, harganya terjangkau dan bersertifikasi halal.

Fakta :

Susu kedelai tidak mengandung kolesterol dibandingkan dengan susu sapi, pilihan yang cocok untuk para vegetarian dan penganut gaya hidup sehat.

Advertisements

Read Full Post »

Food Miles

Banyak orang kini menganggap makan bukan lagi hanya urusan isi perut. Dimana dan apa yang dimakan menjadi sesuatu yang penting. Bagi kalangan tertentu, seperti ada kebanggaan tersendiri saat singgah ke sebuah resto atau kafe eksklusif untuk sekadar santap siang, misalnya, atau ketika menjadikan produk-produk impor sebagai makanan favoritnya. Inilah gaya hidup masyarakat modern, menurut mereka, yang bahkan mengedepankan gengsi seseorang ketimbang kelestarian lingkungan maupun perekonomian bangsanya sendiri.

Sementara makan telah terkait erat dengan persoalan gaya hidup, adakah terbayang oleh kita tentang asal dan bagaimana cara makanan itu sendiri sampai ke hadapan kita? Terpikirkah bahwa dengan menggandrungi makanan impor, kita turut mencairkan kutub utara dan menenggelamkan pulau-pulau di sekitarnya?

Food miles, kata yang cukup asing di telinga kita ini adalah sebuah konsep tentang efek yang ditimbulkan dari makanan yang kita makan, dilihat dari sejauh apa jarak pengangkutan yang diciptakan. Ada beragam akibat dari hal ini, mulai dari pemusnahan nilai-nilai budaya sampai peran dalam percepatan terjadinya global warming. Konsep ini dapat menjadi indikator untuk melihat berbagai dampak dari proses produksi hingga distribusi makanan.

Pengaruh lingkungan
Kontribusi apa yang diberikan food miles pada masalah lingkungan? Logika sederhana sebenarnya dapat menjawab pertanyaan ini. Ingatlah bahwa makin jauh sumber suatu makanan berasal, berarti makin banyak pula bahan bakar yang diperlukan untuk transportasi. Pengangkutan biasanya melibatkan truk-truk berbahan bakar solar yang menyumbang polusi udara lebih besar. Belum lagi jika jarak pengangkutan sudah dalam skala lintas negara atau lintas benua.

Salah satu contoh dapat kita lihat dari hasil penelitian di Inggris, yang menyebutkan bahwa warga di sana bisa menghabiskan sembilan milyar per tahunnya untuk keperluan bahan bakar dalam pengangkutan makanan, baik oleh industri maupun masyarakat biasa. Rata-rata masyarakat Inggris berkendaraan sekitar 898 mil dalam setahun untuk berpergian ke toko makanan. Pada tahun 2002, transportasi makanan di Inggris telah menghasilkan 19 juta ton karbondioksida, yang mana 10 juta diantaranya dihasilkan dari transportasi dalam negeri dan sisanya merupakan hasil dari lalu-lintas makanan impor.

Selain itu, jangan lupakan pula proses produksi, pengolahan serta pengawetan makanan yang juga dapat menyumbang gas-gas rumah kaca. Belum lagi banyaknya makanan terbuang dari persentase kegagalan yang timbul karena masalah pengemasan selama pengangkutan jarak jauh tersebut. Jika semua itu dijumlahkan, maka dari pengiriman makanan jarak jauh yang dilakukan oleh semua eksportir makanan di seluruh dunia dalam sehari akan kita peroleh besaran angka yang mengerikan, mewakili jumlah gas penyebab pemanasan global.

Masalah kesehatan

Jarak pengangkutan yang jauh juga akan mengurangi kesegaran dari makanan. Agar makanan bisa tahan lama, zat-zat kimia yang dapat mengawetkan pun digunakan. Secara tidak sadar, mengonsumsi makanan-makanan tersebut tak ubahnya dengan memasok bom waktu di perut kita. Belum lagi berkurangnya kandungan vitamin karena makanan yang diangkut dari jarak jauh tersebut tentu tidak lagi segar. Maka masih masuk akalkah jika kita mengira bahwa produk-produk makanan impor pasti lebih sehat hanya karena alasan kemahalan harganya? Siapa yang menjamin bahwa tingginya harga produk tersebut merupakan kompensasi dari kualitas bahan atau kehigienisannya, sementara sebagian besar biaya tersebut jelas terserap oleh kepentingan transportasi?

Masalah sosial dan runtuhnya perekonomian lokal

Tidak sedikit produk-produk penganan di sekitar yang tak kalah kualitasnya dengan produk-produk impor. Namun, para produsen lokal tersebut kini kalah bersaing industri-indusri berlabel koorporasi internasional yang bagai raksasa, dengan tangan besarnya dapat menggenggam bola dunia.

Sebut saja Sopian (40), seorang petani lokal yang dulu cukup sukses. Setiap hari ia bisa memasok ratusan kilogram wortel, kentang, dan tanaman-tanaman musiman segar lainnya ke beberapa hotel dan restoran di Bandung, tak ketinggalan pasar-pasar tradisional dan supermarket. Lewat usahanya yang dirintis sejak lulus kuliah ini, ia telah berhasil menggairahkan iklim pertanian di daerahnya. Namun, lain dulu lain sekarang. Sejak pasar Eropa masuk ke Indonesia, atau era yang katanya pemerataan (baca : globalisasi), permintaan pasar atas sayuran yang ia produksi menurun drastis. Walaupun sayuran yang ia produksi tak kalah kualitasnya dengan produk Eropa sana, Sopian harus tersisih karena modal dan kekuasaan yang kurang kuat.

Ketika menjual atau membeli bahan makanan, atau ketika adanya pelayanan langsung terhadap para konsumen, misalnya, merupakan interaksi penting dalam membentuk dan memelihara sebuah komunitas yang berkembang. Inisiatif untuk mengonsumsi makanan lokal jelas mendukung suatu masyarakat. Pembelian bahan makanan dari petani lokal akan mengakibatkan terjalinnya sebuah hubungan sosial dan juga menahan keuangan stabil pada komunitas lokal. Dengan demikian, komunitas para petani pun memiliki sebuah benteng pasar tersendiri.

Beralih ke makanan lokal

Banyaknya konsumsi terhadap produk-produk makanan non lokal merupakan akibat dari kurangnya informasi tentang konsep food miles. Secara tak sadar, masyarakat telah menjadi korban dari promosi iklan sangat gencar. Selain itu, besarnya keterlibatan para pemodal besar (baca: kapital) yang semakin memarjinalkan para pengusaha kecil telah menciptakan persaingan yang tidak sehat. Jelas berarti masalahnya bukan terletak pada kualitas makanan lokal yang lebih jelek.

Dengan pertimbangan tingginya konsentrasi gas rumah kaca yang dibuang kendaraan selama pengangkutan, dukungan terhadap makanan lokal menjadi salah satu solusi untuk mereduksi emisi gas rumah kaca tersebut. Konsep ini sendiri merupakan bagian dari isu yang lebih besar, yaitu keberlanjutan (sustainability), dimana berkaitan erat dengan berbagai isu. Konsumsi terhadap makanan lokal akan menciptakan suatu siklus yang menguntungkan baik bagi kesehatan, lingkungan, kehidupan sosial, maupun perekonomian lokal.

Read Full Post »

Profil Andrea Hirata

Nama Andrea Hirata Seman Said Harun, atau yang lebih sering dikenal dengan Andrea Hirata, menjadi tersohor di dunia sastra setelah buku pertama dalam tetraloginya, yaitu Laskar Pelangi menyentuh hati banyak kalangan. Pria yang mengenyam pendidikan di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (S1), Universite de Paris Sorbonne Perancis dan Sheffield Hallam University Inggris (S2) ini ternyata rela menyebrangi rawa untuk makan buah hutan dan pernah mencoba kopi yang bikin ‘fly’. Nah lho. Berikut petikan hasil wawancara kami dengan penulis yang asli dari Belitong ini..

T : Mas Andrea, kapan sih pindah ke Bandung?

J : Kira-kira dua tahun yang lalu, karena sebagai pegawai Telkom saya terikat perjanjian bersedia dipindahkan kemana saja.

T : Makanan tradisional apa yang paling enak di Belitong?

J : Orang Belitong memiliki masakan khas yang disebut gangan. Masakan ini hampir setiap jari disiapkan oleh setiap keluarga. Gangan seperti gulai ikan yang dimasak dengan kunir sehingga warnanya kuning. Jika yang dimasak daging, bumbunya dicampur daun salam dan cikur.

T : Waktu masa kecil dulu dengan laskar pelangi, ada makanan nostalgia nggak, Mas?

J : Oh, ya banyak sekali ! Dulu kami suka makan buah-buah hutan yang kadang-kadang bentuk, warna, dan rasanya aneh-aneh. Misalnya buah berang yang tersembunyi di balik cangkang yang keras sehingga kalau mau dimakan, cangkangnya itu harus dipecahkan dengan batu. Atau buah bintang yang mengambilnya harus menyeberangi rawa-rawa dan hanya berbuah pada bulan Maret. Di Bandung sih nggak ada buah seperti itu.

T : Mas, di mana mencari masakan Belitong di Bandung?

J : Dulu, dekat asrama mahasiswa Belitong di jalan Supratman ada warung yang menyajikan gangan, yang membuatnya justru ibu orang Bandung asli. Tapi beliau kok bisa ya ? Rasanya persis seperti buatan orang-orang tua kami di Belitong, sayangnya warung itu tak ada lagi.


T : Untuk makanan tradisional Indonesia, apa yang paling Mas Andrea suka?

J : Dulu saya suka sop betawi, tapi karena dokter Telkom bilang kolesterolnya naik, wah jadinya jarang-jarang makan sop betawi, sekarang saya lagi doyan karedok.


T : Makanan tradisional yang menurut Mas Andrea paling aneh?

J : Saya pernah dinas di Telkom Medan, ada yang jual Es Kosong. Saya pikir apa, nggak taunya air putih pakai es saja. Sedangkan yang rasa dan bahannya paling aneh menurut saya adalah masakan Belitong yang namanya Pekasam, luar biasa memualkan karena mahluk laut yang hampir busuk diawetkan di dalam botol dengan cuka.

T : Makanan Sunda favorit Mas Andrea apa?

J : Ya karedok, di warung-warung makanan Sunda biasanya pasti ada

T : Tempat makan favorit di Bandung?

J : JIka sedang ingin masakan sunda saya ke Ampera, jika sedang ingin konro saya datang ke warung konro dekat kantor saya di daerah Geger Kalong. Saya sibuk sekali di kantor, jadi lebih sering pesan makanan Jepang lewat telepon.


T : Sekarang ini anak muda jaman sekarang kurang mengenal makanan tradisional. Menurut Mas Andrea bagaimana ?

J : Betul sekali, tak ada lagi orang muda yang mau makan Pekasam atau anak kecil Belitong yang ke hutan mencari buah berang seperti kami dulu.


T : Punya pengalaman menarik tentang makanan, Mas?

J : Sewaktu libur kuliah dulu, saya backpacking ke Sisilia, Italia. Waktu itu masih subuh dan saya baru turun dari kapal ferry, saya mampir ke sebuah kafe kecil di Messina. Saya memesan secangkir kopi yang namanya aneh, lalu datanglah kopi itu. Saya mulai curiga karena gelasnya kecil sekali, tapi saya lihat orang sekeliling saya minumnya sekali tenggak, saya coba saja menenggaknya sekaligus, lalu saya rasakan dunia berputar. Saya ditertawakan setiap orang di dalam kafe itu. Sampai sekarang, saya tidak tahu itu kopi apa..Haha..

Read Full Post »

Tantangan Kulit Telor

Oleh : Heidy Kaeni

Kulit telur adalah sejenis benda yang mungkin nggak akan pernah gue perhatiin, nggak akan pernah gue pikirin, kalau aja gue nggak punya adek yang ‘alergi’ pada benda sebiji itu.

Nggak tau darimana asal muasalnya, entah kenapa adek gue bisa jadi phobia sama yang namanya PECAHAN KULIT TELUR. Kulit telur, gitu loh. Hal jelek apa sih yang bisa kejadian? Ngelukain kulit? Belom pernah tuh, gue denger ada kejadian begitu. Ngelukain mata? Astaga. Masa sih, ada yang ketuker antara kulit telur dengan contact lens-nya! Keracunan? Coba mana kasih lihat ke gue kalo ada berita orang tewas gara-gara makan kulit telur!

Masih banyak lagi ledekan atau ejekan yang gue hujankan pada adek gue yang lucu tapi aneh itu, berkaitan dengan ketakutannya pada kulit telur. Tapi walau begitu, emang pada dasarnya gue kakak yang baik kok. Soalnya tanpa sadar, pada akhirnya gue tidak pernah mengabaikan ‘hal kecil’ itu di saat-saat yang tepat. Saat yang tepat maksud gue adalah saat di depan kompor dan melakukan penggorengan terhadap cikal bakal anak ayam yang kurang beruntung itu.

Berkaitan dengan kengerian adek gue terhadap telur eh maksud gue kulitnya, maka segala acara dapur yang ada hubungannya dengan telur selalu jadi wewenang dan tugas gue. Dan tentu, saat sedang melaksanakan tugas mulia tersebut, gue selalu berdedikasi penuh. Serius, tidak main-main, dan khidmat.
Dan hasilnya? Hohoho. Dijamin, tidak akan pernah ada pecahan kulit telur dalam masakan bertelur yang gue hidangkan…..

Hingga pada suatu hari.

Pada hari itu, gue sendirian di rumah berhubung adek tersayang sedang berkunjung ke kota sebelah. Dan tiba-tiba gue sangat menginginkan mi pake telur. Maklum, inilah salah satu jenis makanan yang paling popular di kalangan kami mahasiswa. Cepat saji, ramah dompet dan cukup nikmat walau kandungan MSG-nya dapat menurunkan kinerja otak.

Ketika mi sudah siap, tibalah giliran si telur yang dieksekusi. Cetok. Gue mengetok si ‘rumah’ calon anak ayam gagal ke tepian meja dapur. Retak. Tangan kiri menyambut, ikut membuka kulit telur agar isinya dapat keluar dengan leluasa. Cesss. Isi telur pun tiba dengan selamat di penggorengan yang sudah bermentega.
Gue menikmati pemandangan yang baru saja gue lukis di atas penggorengan. Ada danau putih dengan pulau kuning di tengahnya. Tampak bagus, sempurna, karena pecahan kulit telur pun jelas tid..

ADA.

Gue bengong. Dan setelah ngedeketin wajah ke atas pan sambil naikin kacamata yang udah merosot ke hidung….tetep, bengong.

KOK BISA, jerit gue dengan melotot marah ke arah kompor. E..eh, bukan salah gue kan, kata si penggorengan takut-takut. Bukan salah gue juga! Itu seruan si spatula yang gagah berani. APALAGI GUE, teriak si telur dengan beringas.

Gue nggak habis pikir. Kenapa, waktu gue masak telur buat adek gue, yang mana seringkali dia ada di sebelah gue, penuh khawatir memandang si telur sambil kira-kira dua puluh tujuh kali berkata “ati-ati jangan sampe kulit telurnya ikut”, gue selalu bisa melakukannya dengan sukses? Kenapa saat gue super duper santai, saat lagi nggak mikir apapun, saat nggak ada beban atau tekanan apapun, gue malah nggak bisa melakukannya dengan sempurna? Pengalaman ini jelas menentang teori orang-tidak-bisa-sukses-saat-dibebani, yang sering gue denger sejak zaman ABG (bukan angkatan babe gue.

Ternyata, ada yang bisa mengalahkan “beban”. Perkenalkan, namanya : NIAT.

Waktu memasak buat adek, dengan beban yang berjuta kali lebih besar, yang ada di benak gue cuma satu : memasak telur buat si adek, tanpa pecahan kulitnya. Waktu memasak buat diri sendiri, yang ada di benak gue…ehm, nggak ada. Nggak ada beban, tapi juga nggak ada niat sama sekali. Gimana mau sukses?!?!

Read Full Post »

Menyusuri jalan Ciliwung yang rindang membuat saya teringat masa-masa SMA dulu. Sepulang sekolah saya biasa bersenda gurau bersama teman2 saya, berdebat memutuskan untuk makan siang di Nasi Timbel Ciliwung (dulu Nasi Timbel Istiqamah), atau menikmati semangkuk bakso ceker ayam di Bakso Mandeep, atau sekedar nongkrong di tukang batagor di dekat perempatan Jalan Riau sambil membicarakan sulitnya ulangan tadi pagi ditemani sepiring batagor kuah yang gurih.

Jika saya dan teman-teman saya hari itu kebetulan sangat lapar, maka Nasi Timbel Ciliwung merupakan pilihan yang paling tepat. Beberapa tahun yang lalu Nasi Timbel tersebut terletak di seberang masjid Istiqamah, sekarang pindah ke Jl Ciliwung di area suatu sekolah menengah dengan tempat makan yang lebih luas. Begitu masuk ke kedai Nasi Timbel tersebut, pengunjung biasanya langsung ditawari mau nasi merah atau nasi putih, kemudian dipersilahkan untuk mengambil sendiri lauknya, ada ayam goreng yang khas rasanya, ikan asin, ikan goreng, ati ampela, tahu tempe, hingga leunca dan lalapan. Sedaap !

Ada lagi tukang bakso dan batagor yang berjualan dengan tenda di sebelah Bank Mandiri Riau. Semangkuk mie yamin asin yang gurih atau batagor kuah yang sedap biasa menemani saya dan teman-teman sepulang sekolah dulu. Hmm..jadi kangen. Mungkin nanti sore saya akan menyempatkan diri mampir sekedar memuaskan lidah saya..

Read Full Post »

Nilai : 7 / 10

Klasifikasi resto : masakan sunda

Spesialisasi : pindang ikan mas, peda bakar, ayam goreng Cisaga, Es Kopi Nyereung, kue balok

Alamat : Jl Trunojoyo 62

Delivery : 022-420 3650

Jam buka : 10.00-22.00 (hari biasa)/ 06.00-22.00 (minggu)

Harga : ± Rp. 15.000,-Rp. 20.000/orang Pilihan editor : ayam goreng cisaga, sambel oncom, pindang ikan mas

Komentar : atmosfer kampungnya asyik !

“Omat, upami tuang 5 ulang ngaku 1, sing karunya ka emang, Da Gusti mah Maha Uninga”

Tulisan di spanduk besar dan salam hangat dari Mang Barna menyambut kami, ketika menyambangi rumah makan berkonsep warung kampung ini. Keramahan dan kehangatan. Itulah yang ingin digambarkan Warung Nasi Bancakan Mang Barna dan Bi Oom di dekat Gedung Sate, yang berdiri sejak 17 Oktober 2007.

Pernak-pernik kampung memperkuat konsep warung ini, seperti lampu petromaks, teko seng, termos ala kampung nenek, cocok dengan piring dan gelas teh yang juga terbuat dari seng. Dinding-dindingnya dihiasi poster Shahrukh Khan, Kajol, Iwan Fals, Bung Karno, juga Kurt Cobain. Sementara di meja kasir ada juga cemilan jadul permen karet bola warna-warni dan coklat payung.

Tak hanya itu yang unik dari Nasi Bancakan, tapi juga dapur dengan hawu (tungku) yang menggunakan kayu bakar untuk membuat nasi liwet dan menu lainnya. Tidak heran, semua menu yang dibakar memiliki aroma dan rasa yang khas. Aneka menu khas Nasi Bancakan seperti ayam goreng cisaga, pindang ikan mas, jengkol goreng, beuleum peda (peda bakar), balakutak, ulukuteuk leunca, dan lainnya, semuanya dihidangkan di atas mangkuk-mangkuk seng besar untuk menemani Nasi Liwet atau timbel. Tinggal pilih dan ambil sesuka kita. Semua itu disajikan lengkap dengan sambal terasi dan sambel oncom tak ketinggalan lalapan. Rasanya? Orisinil, khas masakan rumah. Sambel terasinya pedas dan rasa terasinya mantap. Kreceknya juga memiliki aroma pete yang kental.

Bagi Anda yang ingin sarapan, datanglah ke sini pada hari Minggu. Anda dapat menikmati doclang, bubur hayam kampung, sangu goreng, dan kupat tahu.

Jangan lupa, di sini juga ada berbagai macam gorengan (gehu, tahu aci, perkedel, pisang goreng) atau kue balok (mirip kue pukis) untuk oleh-oleh.

Read Full Post »

Anda yang tinggal di tanah Sunda pasti sudah tidak asing dengan tanaman yang beraroma limau ini. Kemangi sangat populer di dalam masakan Indonesia, di dalam nasi ulam Betawi, di dalam ulukutek leunca dari Sunda, di dalam nasi krawu Jawa Timur, maupun di dalam bubur komplet Menado.

Meskipun murah dan banyak ditemukan, kemangi yang disebut juga dengan istilah Lemon Basil ini ternyata memiliki khasiat yang sangat banyak.

Mengoleskan rebusan kemangi bersama bawang merah dan minyak kelapa pada bagian perut, dada, dan punggung ternyata dapat meredakan perut kembung dan masuk angin. Jika Anda memiliki masalah bau badan dan bau mulut, mengkonsumsi kemangi segar atau meminum air rebusan kemangi, daun beluntas, dan kunyit dapat mengatasinya.

Menurut John Henry M. dalam bukunya yang berjudul “A Dictionary of Practical Material Medical“, daun kemangi berkhasiat menyembuhkan gangguan pencernaan, nyeri payudara, dan batu ginjal. Selain itu, kemangi juga dapat mengatasi influenza, gangguan menstruasi, sakit telinga dan sakit kepala/migrain, infeksi usus, dan gangguan saraf. Tidak hanya itu, aroma kemangi dapat menolak gigitan nyamuk.

Bagi pria, senyawa 1-8 sineol dalam kemangi dapat mengatasi masalah ejakulasi prematur, dan zat argininnya dapat mempertinggi daya tahan sperma serta mencegah kemandulan. Sedangkan bagi wanita, senyawa anetol, boron, eugenol, dan stigmaasterolnya mampu merangsang hormon estrogen, membunuh jamur penyebab keputihan, serta merangsang pematangan sel telur.

Minyak racikan kemangi berfungsi melawan bakteri Staphylococcus aureus, Salmonella enteritidis, dan Escherichia coli, menangkal infeksi akibat virus Basillus subtilis, Salmonella paratyph,dan Proteus vulgaris.
Tidak hanya itu saja, zat flavonoid dalam kemangi mampu melindungi struktur sel tubuh dan berperan sebagai antibiotik alami. Kemangi juga kaya akan betakaroten dan magnesium, mineral penting yang berfungsi menjaga dan memelihara kesehatan jantung.

Di bidang kecantikan, kemangi dapat disuling dan diambil minyak atsirinya sebagai campuran pembuatan obat ataupun untuk bahan perawatan tubuh seperti sabun mandi, biang parfum, pelembab tubuh, dan minyak aroma terapi. Namun penggunaan kemangi sebagai minyak pijat sebaiknya tidak diaplikasikan terhadap wanita hamil.

Jika dicampur dengan lulur, kemangi dapat merangsang peredaran darah di tubuh sehingga kulit lebih halus dan berkilau, serta mengatasi masalah jerawat dan kerontokan rambut.

Heran dengan khasiat kemangi yang seabreg? Tunggu apa lagi, segera masukkan kemangi dalam menu harian Anda.

Read Full Post »

Older Posts »