Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘artikel’ Category

Food Miles

Banyak orang kini menganggap makan bukan lagi hanya urusan isi perut. Dimana dan apa yang dimakan menjadi sesuatu yang penting. Bagi kalangan tertentu, seperti ada kebanggaan tersendiri saat singgah ke sebuah resto atau kafe eksklusif untuk sekadar santap siang, misalnya, atau ketika menjadikan produk-produk impor sebagai makanan favoritnya. Inilah gaya hidup masyarakat modern, menurut mereka, yang bahkan mengedepankan gengsi seseorang ketimbang kelestarian lingkungan maupun perekonomian bangsanya sendiri.

Sementara makan telah terkait erat dengan persoalan gaya hidup, adakah terbayang oleh kita tentang asal dan bagaimana cara makanan itu sendiri sampai ke hadapan kita? Terpikirkah bahwa dengan menggandrungi makanan impor, kita turut mencairkan kutub utara dan menenggelamkan pulau-pulau di sekitarnya?

Food miles, kata yang cukup asing di telinga kita ini adalah sebuah konsep tentang efek yang ditimbulkan dari makanan yang kita makan, dilihat dari sejauh apa jarak pengangkutan yang diciptakan. Ada beragam akibat dari hal ini, mulai dari pemusnahan nilai-nilai budaya sampai peran dalam percepatan terjadinya global warming. Konsep ini dapat menjadi indikator untuk melihat berbagai dampak dari proses produksi hingga distribusi makanan.

Pengaruh lingkungan
Kontribusi apa yang diberikan food miles pada masalah lingkungan? Logika sederhana sebenarnya dapat menjawab pertanyaan ini. Ingatlah bahwa makin jauh sumber suatu makanan berasal, berarti makin banyak pula bahan bakar yang diperlukan untuk transportasi. Pengangkutan biasanya melibatkan truk-truk berbahan bakar solar yang menyumbang polusi udara lebih besar. Belum lagi jika jarak pengangkutan sudah dalam skala lintas negara atau lintas benua.

Salah satu contoh dapat kita lihat dari hasil penelitian di Inggris, yang menyebutkan bahwa warga di sana bisa menghabiskan sembilan milyar per tahunnya untuk keperluan bahan bakar dalam pengangkutan makanan, baik oleh industri maupun masyarakat biasa. Rata-rata masyarakat Inggris berkendaraan sekitar 898 mil dalam setahun untuk berpergian ke toko makanan. Pada tahun 2002, transportasi makanan di Inggris telah menghasilkan 19 juta ton karbondioksida, yang mana 10 juta diantaranya dihasilkan dari transportasi dalam negeri dan sisanya merupakan hasil dari lalu-lintas makanan impor.

Selain itu, jangan lupakan pula proses produksi, pengolahan serta pengawetan makanan yang juga dapat menyumbang gas-gas rumah kaca. Belum lagi banyaknya makanan terbuang dari persentase kegagalan yang timbul karena masalah pengemasan selama pengangkutan jarak jauh tersebut. Jika semua itu dijumlahkan, maka dari pengiriman makanan jarak jauh yang dilakukan oleh semua eksportir makanan di seluruh dunia dalam sehari akan kita peroleh besaran angka yang mengerikan, mewakili jumlah gas penyebab pemanasan global.

Masalah kesehatan

Jarak pengangkutan yang jauh juga akan mengurangi kesegaran dari makanan. Agar makanan bisa tahan lama, zat-zat kimia yang dapat mengawetkan pun digunakan. Secara tidak sadar, mengonsumsi makanan-makanan tersebut tak ubahnya dengan memasok bom waktu di perut kita. Belum lagi berkurangnya kandungan vitamin karena makanan yang diangkut dari jarak jauh tersebut tentu tidak lagi segar. Maka masih masuk akalkah jika kita mengira bahwa produk-produk makanan impor pasti lebih sehat hanya karena alasan kemahalan harganya? Siapa yang menjamin bahwa tingginya harga produk tersebut merupakan kompensasi dari kualitas bahan atau kehigienisannya, sementara sebagian besar biaya tersebut jelas terserap oleh kepentingan transportasi?

Masalah sosial dan runtuhnya perekonomian lokal

Tidak sedikit produk-produk penganan di sekitar yang tak kalah kualitasnya dengan produk-produk impor. Namun, para produsen lokal tersebut kini kalah bersaing industri-indusri berlabel koorporasi internasional yang bagai raksasa, dengan tangan besarnya dapat menggenggam bola dunia.

Sebut saja Sopian (40), seorang petani lokal yang dulu cukup sukses. Setiap hari ia bisa memasok ratusan kilogram wortel, kentang, dan tanaman-tanaman musiman segar lainnya ke beberapa hotel dan restoran di Bandung, tak ketinggalan pasar-pasar tradisional dan supermarket. Lewat usahanya yang dirintis sejak lulus kuliah ini, ia telah berhasil menggairahkan iklim pertanian di daerahnya. Namun, lain dulu lain sekarang. Sejak pasar Eropa masuk ke Indonesia, atau era yang katanya pemerataan (baca : globalisasi), permintaan pasar atas sayuran yang ia produksi menurun drastis. Walaupun sayuran yang ia produksi tak kalah kualitasnya dengan produk Eropa sana, Sopian harus tersisih karena modal dan kekuasaan yang kurang kuat.

Ketika menjual atau membeli bahan makanan, atau ketika adanya pelayanan langsung terhadap para konsumen, misalnya, merupakan interaksi penting dalam membentuk dan memelihara sebuah komunitas yang berkembang. Inisiatif untuk mengonsumsi makanan lokal jelas mendukung suatu masyarakat. Pembelian bahan makanan dari petani lokal akan mengakibatkan terjalinnya sebuah hubungan sosial dan juga menahan keuangan stabil pada komunitas lokal. Dengan demikian, komunitas para petani pun memiliki sebuah benteng pasar tersendiri.

Beralih ke makanan lokal

Banyaknya konsumsi terhadap produk-produk makanan non lokal merupakan akibat dari kurangnya informasi tentang konsep food miles. Secara tak sadar, masyarakat telah menjadi korban dari promosi iklan sangat gencar. Selain itu, besarnya keterlibatan para pemodal besar (baca: kapital) yang semakin memarjinalkan para pengusaha kecil telah menciptakan persaingan yang tidak sehat. Jelas berarti masalahnya bukan terletak pada kualitas makanan lokal yang lebih jelek.

Dengan pertimbangan tingginya konsentrasi gas rumah kaca yang dibuang kendaraan selama pengangkutan, dukungan terhadap makanan lokal menjadi salah satu solusi untuk mereduksi emisi gas rumah kaca tersebut. Konsep ini sendiri merupakan bagian dari isu yang lebih besar, yaitu keberlanjutan (sustainability), dimana berkaitan erat dengan berbagai isu. Konsumsi terhadap makanan lokal akan menciptakan suatu siklus yang menguntungkan baik bagi kesehatan, lingkungan, kehidupan sosial, maupun perekonomian lokal.

Advertisements

Read Full Post »

Profil Andrea Hirata

Nama Andrea Hirata Seman Said Harun, atau yang lebih sering dikenal dengan Andrea Hirata, menjadi tersohor di dunia sastra setelah buku pertama dalam tetraloginya, yaitu Laskar Pelangi menyentuh hati banyak kalangan. Pria yang mengenyam pendidikan di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (S1), Universite de Paris Sorbonne Perancis dan Sheffield Hallam University Inggris (S2) ini ternyata rela menyebrangi rawa untuk makan buah hutan dan pernah mencoba kopi yang bikin ‘fly’. Nah lho. Berikut petikan hasil wawancara kami dengan penulis yang asli dari Belitong ini..

T : Mas Andrea, kapan sih pindah ke Bandung?

J : Kira-kira dua tahun yang lalu, karena sebagai pegawai Telkom saya terikat perjanjian bersedia dipindahkan kemana saja.

T : Makanan tradisional apa yang paling enak di Belitong?

J : Orang Belitong memiliki masakan khas yang disebut gangan. Masakan ini hampir setiap jari disiapkan oleh setiap keluarga. Gangan seperti gulai ikan yang dimasak dengan kunir sehingga warnanya kuning. Jika yang dimasak daging, bumbunya dicampur daun salam dan cikur.

T : Waktu masa kecil dulu dengan laskar pelangi, ada makanan nostalgia nggak, Mas?

J : Oh, ya banyak sekali ! Dulu kami suka makan buah-buah hutan yang kadang-kadang bentuk, warna, dan rasanya aneh-aneh. Misalnya buah berang yang tersembunyi di balik cangkang yang keras sehingga kalau mau dimakan, cangkangnya itu harus dipecahkan dengan batu. Atau buah bintang yang mengambilnya harus menyeberangi rawa-rawa dan hanya berbuah pada bulan Maret. Di Bandung sih nggak ada buah seperti itu.

T : Mas, di mana mencari masakan Belitong di Bandung?

J : Dulu, dekat asrama mahasiswa Belitong di jalan Supratman ada warung yang menyajikan gangan, yang membuatnya justru ibu orang Bandung asli. Tapi beliau kok bisa ya ? Rasanya persis seperti buatan orang-orang tua kami di Belitong, sayangnya warung itu tak ada lagi.


T : Untuk makanan tradisional Indonesia, apa yang paling Mas Andrea suka?

J : Dulu saya suka sop betawi, tapi karena dokter Telkom bilang kolesterolnya naik, wah jadinya jarang-jarang makan sop betawi, sekarang saya lagi doyan karedok.


T : Makanan tradisional yang menurut Mas Andrea paling aneh?

J : Saya pernah dinas di Telkom Medan, ada yang jual Es Kosong. Saya pikir apa, nggak taunya air putih pakai es saja. Sedangkan yang rasa dan bahannya paling aneh menurut saya adalah masakan Belitong yang namanya Pekasam, luar biasa memualkan karena mahluk laut yang hampir busuk diawetkan di dalam botol dengan cuka.

T : Makanan Sunda favorit Mas Andrea apa?

J : Ya karedok, di warung-warung makanan Sunda biasanya pasti ada

T : Tempat makan favorit di Bandung?

J : JIka sedang ingin masakan sunda saya ke Ampera, jika sedang ingin konro saya datang ke warung konro dekat kantor saya di daerah Geger Kalong. Saya sibuk sekali di kantor, jadi lebih sering pesan makanan Jepang lewat telepon.


T : Sekarang ini anak muda jaman sekarang kurang mengenal makanan tradisional. Menurut Mas Andrea bagaimana ?

J : Betul sekali, tak ada lagi orang muda yang mau makan Pekasam atau anak kecil Belitong yang ke hutan mencari buah berang seperti kami dulu.


T : Punya pengalaman menarik tentang makanan, Mas?

J : Sewaktu libur kuliah dulu, saya backpacking ke Sisilia, Italia. Waktu itu masih subuh dan saya baru turun dari kapal ferry, saya mampir ke sebuah kafe kecil di Messina. Saya memesan secangkir kopi yang namanya aneh, lalu datanglah kopi itu. Saya mulai curiga karena gelasnya kecil sekali, tapi saya lihat orang sekeliling saya minumnya sekali tenggak, saya coba saja menenggaknya sekaligus, lalu saya rasakan dunia berputar. Saya ditertawakan setiap orang di dalam kafe itu. Sampai sekarang, saya tidak tahu itu kopi apa..Haha..

Read Full Post »

Anda yang tinggal di tanah Sunda pasti sudah tidak asing dengan tanaman yang beraroma limau ini. Kemangi sangat populer di dalam masakan Indonesia, di dalam nasi ulam Betawi, di dalam ulukutek leunca dari Sunda, di dalam nasi krawu Jawa Timur, maupun di dalam bubur komplet Menado.

Meskipun murah dan banyak ditemukan, kemangi yang disebut juga dengan istilah Lemon Basil ini ternyata memiliki khasiat yang sangat banyak.

Mengoleskan rebusan kemangi bersama bawang merah dan minyak kelapa pada bagian perut, dada, dan punggung ternyata dapat meredakan perut kembung dan masuk angin. Jika Anda memiliki masalah bau badan dan bau mulut, mengkonsumsi kemangi segar atau meminum air rebusan kemangi, daun beluntas, dan kunyit dapat mengatasinya.

Menurut John Henry M. dalam bukunya yang berjudul “A Dictionary of Practical Material Medical“, daun kemangi berkhasiat menyembuhkan gangguan pencernaan, nyeri payudara, dan batu ginjal. Selain itu, kemangi juga dapat mengatasi influenza, gangguan menstruasi, sakit telinga dan sakit kepala/migrain, infeksi usus, dan gangguan saraf. Tidak hanya itu, aroma kemangi dapat menolak gigitan nyamuk.

Bagi pria, senyawa 1-8 sineol dalam kemangi dapat mengatasi masalah ejakulasi prematur, dan zat argininnya dapat mempertinggi daya tahan sperma serta mencegah kemandulan. Sedangkan bagi wanita, senyawa anetol, boron, eugenol, dan stigmaasterolnya mampu merangsang hormon estrogen, membunuh jamur penyebab keputihan, serta merangsang pematangan sel telur.

Minyak racikan kemangi berfungsi melawan bakteri Staphylococcus aureus, Salmonella enteritidis, dan Escherichia coli, menangkal infeksi akibat virus Basillus subtilis, Salmonella paratyph,dan Proteus vulgaris.
Tidak hanya itu saja, zat flavonoid dalam kemangi mampu melindungi struktur sel tubuh dan berperan sebagai antibiotik alami. Kemangi juga kaya akan betakaroten dan magnesium, mineral penting yang berfungsi menjaga dan memelihara kesehatan jantung.

Di bidang kecantikan, kemangi dapat disuling dan diambil minyak atsirinya sebagai campuran pembuatan obat ataupun untuk bahan perawatan tubuh seperti sabun mandi, biang parfum, pelembab tubuh, dan minyak aroma terapi. Namun penggunaan kemangi sebagai minyak pijat sebaiknya tidak diaplikasikan terhadap wanita hamil.

Jika dicampur dengan lulur, kemangi dapat merangsang peredaran darah di tubuh sehingga kulit lebih halus dan berkilau, serta mengatasi masalah jerawat dan kerontokan rambut.

Heran dengan khasiat kemangi yang seabreg? Tunggu apa lagi, segera masukkan kemangi dalam menu harian Anda.

Read Full Post »

Teh Hijau

“lebih baik pergi tiga hari tanpa garam, ketimbang sehari tanpa teh” (Pepatah Cina)

Teh hijau saat ini sangat populer di dunia kuliner modern. Entah kenapa penyuka teh hijau sebagian besar adalah kaum hawa, apa karena dilansir bahwa teh hijau dapat melangsingkan tubuh ? Atau karena rasanya khas dan sangat cocok dipadukan dengan susu ?

Apa yang membuat teh hijau istimewa ?

Semua jenis teh sebenarnya berasal dari satu spesies tanaman, Camellia sinensis, namun teh hijau tidak mengalami proses fermentasi sehingga kandungan kafeinnya paling rendah dibandingkan teh hitam yang biasa kita minum. Rasa pahit khas dari teh hijau disebabkan oleh tingginya kadar senyawa antioksidan EGCG di dalam jenis teh tersebut. Nah, senyawa inilah yang dipercaya dapat melindungi kita dari senyawa radikal bebas yang sering dituduh sebagai penyebab kanker, penuaan dini, dan penyakit jantung. Sekali-sekali, boleh dong mengganti kopi favorit kita dengan secangkir teh hijau yang menyehatkan?

Teh hijau sebenarnya berasal dari Cina.

Berdasarkan catatan seorang biksu Budha, teh hijau masuk ke Jepang pada abad IX dibawa oleh seorang pendeta dan menjadi minuman keluarga kerajaan. Sejak saat itu pembudidayaan teh hijau di Jepang dimulai. Pada tahun 1211, pendeta Zen, Eisai, menulis buku mengenai khasiat teh hijau yang berjudul Kissa Yojoki (Menjadi Sehat Dengan Meminum Teh). Buku ini menjadikan teh hijau sangat populer di kalangan samurai dan akhirnya menjadi simbol budaya kuliner Jepang hingga saat ini.

Orang Cina telah mengetahui kegunaan medis dari teh hijau, mulai dari mengobati sakit kepala ringan hingga depresi, sejak 4000 tahun yang lalu. Eisai menuturkan bahwa teh hijau dapat memberikan dampak yang positif bagi 5 organ vital, terutama jantung. Khasiat teh hijau lain diungkapkan oleh Dr. Nicholas Perricone, seorang spesialis anti penuaan dini. Teh merupakan stimulan metabolisme yang baik dan hanya mengandung 4 kalori setiap cangkir. Namun khasiat ini hanya efektif bila teh diminum tanpa tambahan gula dan bahan-bahan lain.

Membuat secangkir teh hijau yang sempurna ternyata lebih rumit dari hanya sekedar mencelupkan kantung teh. Jika penyeduhan tidak dilakukan dengan benar, senyawa antioksidan yang terkandung dalam teh akan merusak cita rasa teh hijau yang khas. Proses upacara minum teh di Jepang cukup membingungkan karena diperlukan kepekaan terhadap suhu air penyeduh. Sepertinya kita tidak perlu berbuat sejauh itu untuk menikmati secangkir teh hijau yang enak.

Instruksi umum dalam menyeduh teh hijau

• Masukkan 1 kantung teh celup atau 1-2 sdt daun teh ke dalam cangkir
• Didihkan air dalam ketel, kemudian matikan api dan diamkan selama 3 menit
• Tuangkan air dari ketel ke dalam cangkir dan seduh selama 3 menit, keluarkan teh
• Biarkan selama 3 menit sebelum diminum

Tips

• Gunakan teh yang berkualitas baik. Teh yang dikemas dengan baik tahan 2-3 bulan setelah dibuka
• Seduh teh dengan temperatur 73-76 °C agar teh tidak pahit
• Seduh teh selama 2 menit saja agar teh tidak pahit
• Jangan mengaduk, mengocok atau mencampur teh
• Beri ruang daun teh untuk mengembang

Gula dan bahan-bahan lain memang membuat khasiat teh hijau menjadi tidak optimal. Namun sekali-sekali tidak apa-apa sedikit bandel, takaran yang tepat akan menghasilkan minuman teh hijau dengan citarasa yang tak terlupakan

Resep

Es Krim Teh Hijau > didihkan 150 ml susu lalu matikan api, masukkan 1 sdm matcha, aduk dan diamkan selama 20 menit, kocok campuran susu dengan 400 gr es krim vanilla yang telah dilunakkan, bekukan

Matcha Latte > masukkan 1/3 sdt matcha dan gula sesuai selera ke dalam mug > tuangkan susu panas ke dalam mug lalu aduk > beri taburan matcha
Patut dicoba :

Green Tea Cream Frappuccino – Starbucks Coffee
Matcha Milkshake – Shinmen Resto
Miss Green-T – J.Co Donuts & Coffee
Jasmine Green Tea – Platinum Resto
Chinese Green Tea – Rumah Strawberry
Green Tea Gelato – Breadtalk
Hot Green Tea Latte – Ini Teh Kopi
Waffle & Green Tea Ice Cream – Brusselsspring

Read Full Post »

Ketika kesenian tradisional semacam calung atau gondang semakin dilupakan orang karena terdesak oleh kebudayaan asing yang menyilaukan mata, masih ada satu warisan kebudayaan Sunda yang tetap menarik untuk dinikmati: kulinernya. Bahkan kuliner Sunda sampai saat ini masih menjadi faktor penarik wisatawan dari daerah lain. Masakan Sunda selalu diburu oleh para penikmat wisata kuliner. Sebut saja nasi timbel, tutug oncom, karedok, ulukuteuk leunca, dan masih banyak lagi. Untuk makanan ringan dan minuman juga ada banyak pilihan, di antaranya surabi, comro, bandrek, dan bajigur.

Cita rasa masakan Sunda pada umumnya adalah gurih, tapi rasanya tidak terlalu tajam. Tidak terlalu manis seperti masakan Jawa, dan tidak bersantan seperti masakan Melayu. “Yang membuat masakan Sunda khas adalah perpaduan bumbunya,” kata Adang S., Pupuhu Caraka Sundanologi, yayasan yang bergerak dalam pelestarian kebudayaan Sunda. Bumbu yang digunakan tidak macam-macam, dan semuanya alami.
Yang harus ada dalam masakan Sunda adalah lalapan. Hampir sama dengan salad pada makanan barat, lalapan terdiri dari berbagai sayuran mentah, biasanya selada, kacang panjang, timun, tomat, daun pepaya, daun singkong, dan kemangi. Lalapan akan terasa lebih nikmat jika disantap bersama ‘pasangannya’, yaitu sambal yang pedasnya bisa membangkitkan selera makan. Menurut Adang, di Sunda dikenal tiga jenis sambal, yaitu sambal terasi, sambal oncom, dan sambal muncang yang menggunakan kemiri sebagai bumbu. Masakan Sunda tanpa lalapan dan sambal kurang lengkap rasanya.

Salah satu kuliner Sunda yang paling populer adalah nasi timbel. Ini adalah nasi yang dipulenkan dan dibungkus daun pisang, sehingga aromanya berbeda dengan nasi biasa, lebih menggoda. Nasi sengaja dipulenkan terkait dengan tradisi makan di Sunda dulu, yaitu menggunakan tangan langsung. Biasanya disantap bersama ayam atau ikan (dapat digoreng maupun dibakar), tahu, tempe, ikan asin, dan tentu saja lalapan dan sambal. Bisa juga ditambah sayur asem. Jika disantap selagi nasi masih panas dipadu dengan pedasnya sambal, rasanya sungguh memanjakan lidah. Dulu, bentuk nasi timbel bukan hanya lonjong seperti yang kita kenal sekarang, tapi juga kerucut seperti nasi tumpeng. Karena membuatnya cukup sulit, nasi timbel berbentuk kerucut ini sekarang sudah jarang ditemukan.

Jenis makanan lainnya yang terdengar unik adalah nasi kastrol, nasi yang dimasak menggunakan alat kastrol, yaitu panci dengan berlapis tebal yang khusus untuk meliwet nasi. Proses pembuatan mirip dengan nasi liwet, namun beras dicampur dengan bumbu dan rempah. Karena rasanya yang gurih, seringkali nasi kastrol dimakan tanpa lauk.

Dari dulu, Sunda memang identik dengan makanan. “Dulu anak gadis yang mau menikah disuruh bikin sambal dulu sama calon mertuanya. Kalau sambal buatannya enak, berarti dia bisa diterima,” kisah Adang. “Itu jadi motivasi buat orang Sunda supaya bisa masak enak.” Budaya menyantap lalapan pun datang dari kebiasaan orang Sunda yang gemar bercocok tanam. “Makanya orang Sunda yang di kampung sehat-sehat, lalapan kan mengandung banyak vitamin,” kisah Adang lagi. Penelitian memang menunjukkan, tanaman-tanaman yang digunakan dalam masakan Sunda termasuk dalam jenis tanaman obat alternatif untuk berbagai penyakit seperti tekanan darah tinggi, penyakit jantung koroner, diabetes melitus atau kencing manis, penyakit hati, asma, dan rematik.

Hingga kini, makanan Sunda masih digemari. Bukan hanya oleh orang Sunda asli, tapi juga oleh selain orang Sunda. Di Jawa Barat maupun daerah lain, rumah makan Sunda menjamur di mana-mana, dari kaki lima yang sederhana sampai yang tempatnya berpendingin ruangan. Di mall-mall pun, makanan Sunda bersanding dengan steak atau makanan Jepang, tak kalah bersaing. Itu karena makanan Sunda dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan jaman, misalnya surabi yang dulu cuma berisi oncom sekarang rasanya bervariasi: coklat, stroberi, vanilla, keju, susu, dan lain-lain. Pantas saja kuliner Sunda terus digemari.

Raos pisan euy!

Read Full Post »

Oleh : Indrawan Prabaharyaka

Es Lilin mah ceceu, didorong-dorong..

Sekelumit lagu di atas mengingatkan kita akan eksotisme makanan di daerah Priangan. Kota Bandung yang identik dengan budaya Sunda sejak dulu dikenal sebagai surga belanja dan surga jajanan memiliki beragam makanan khas baik makanan santap (restoran, rumah makan) maupun jajanan kecil yang menarik. Sebagian besar makanan khas ini bahkan mampu menarik wisatawan domestik terutama dari Jakarta dan kota-kota besar di Jawa lainnya.

Jika dibandingkan dengan makanan tradisional lain, maka makanan tradisional Sunda memiliki keunikan yang khas. Secara umum, makanan tradisional Sunda cenderung asin, menggunakan sayur-sayuran mentah setempat (lalapan), sambal terasi, tahu-tempe, ikan asin, olahan pepes. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh kebudayaan masyarakat tradisional Sunda yang dekat dengan alam. Selain mata pencaharian utamanya adalah bertani, masyarakat tradisional Sunda mempunyai lingkungan alam yang eksotik.
Makanan jajanan adalah kelompok makanan utama, ringan, pelengkap, dan pencuci mulut yang dijajakan atau dijual secara umum. Makanan tersebut bisa diperoleh pada penjual yang menetap (di pasar atau rumah makan) ataupun menjajakan makanannya secara keliling. Makanan jajanan biasanya disuguhkan dalam cara-cara yang unik, mulai dari teknik pembuatannya, desain kemasannya, hingga cara menjajakannya.
Variasi kemasan makanan jajanan tradisional salah satunya adalah dengan menggunakan pembungkus atau pincuk. Sebagai contoh, daun pisang adalah daun yang paling banyak dimanfaatkan sebagai pembungkus makanan. Selain murah dan mudah diperoleh dimana-mana, daun pisang berukuran lebar serta bisa tumbuh tanpa terlalu terpengaruh siklus musiman buah. Daun ini sering digunakan dalam keadaan basah (di-leumpeuh, yaitu dipanaskan di dekat api).

Daun sebagai pembungkus makanan mengandung berbagai senyawa kimia. Sedangkan di bagian permukaan daun terdapat senyawa lilin, antimikroba (antijamur, antibakteri, antiparasit, dan antivirus), serta senyawa silikat. Dengan demikian, daun yang digunakan sebagai pembungkus makanan tradisional tidak mengandung senyawa yang dapat meracuni manusia kecuali ada faktor luar yang mencemari seperti pestisida, pupuk sintetis, zat warna, dan lain-lain. Ketika daun dilipat dalam proses pembungkusan, pecahan di sekitar lipatan tidak melepaskan karsinogen (penyebab kanker) seperti yang dicurigai terjadi pada pembungkus plastik. Zat-zat yang dilepaskan daun dapat dicerna secara alami oleh kerja lambung manusia bahkan bisa berguna sebagai nutrisi. Hal yang perlu dihindari adalah jangan sampai daun tercemar oleh mikroba, pestisida, dan zat karsinogenik.

Kemasan makanan tradisional yang bersumber dari alam (daun, pohon, akar) sangat menggambarkan manusia tradisional yang hidup dari dan untuk alam. Kemasan memiliki nilai tambah karena paling mudah didegradasi dibandingkan dengan kemasan plastik atau styrofoam yang sekarang menjamur. Contoh lain, pohon bambu yang digunakan sebagai kemasan gula merah dan lahang (minuman dari sadapan pohon aren) adalah tumbuhan yang tidak mengeluarkan getah sehingga aman untuk dikonsumsi tanpa khawatir akan keracunan. Selain itu, pohon bambu adalah tumbuhan yang bisa tumbuh dalam jumlah banyak serta waktu yang cepat sehingga tidak perlu terlalu dikhawatirkan kelestariannya.

Kini, penggunaan bahan-bahan organis tersebut semakin digantikan oleh pemakaian bahan sintetis. Daun sebagai pembungkus digantikan oleh kardus dan plastik, tali bambu sebagai pengikat digantikan oleh jepretan logam (stapler), tali rafia, atau tali karet. Plastik bisa membahayakan karena jika terkena panas dan larut dalam makanan yang dikemas, maka ikut terlarut pula senyawa karsinogenik yang bisa menimbulkan kanker dan baru terasa efeknya bertahun-tahun kemudian. Khusus untuk jepretan logam, bahan logam tersebut bisa membahayakan. Kita sering menemukan kasus yaitu jepretan logam yang ikut masuk ke dalam makanan karena kelalaian penjual/pembuat makanan jajanan. Jika jepretan logam tersebut tertelan dan masuk ke dalam sistem pencernaan, maka akan timbul efek berbahaya yaitu sobeknya lambung atau usus oleh stapler yang tajam.

Hal yang paling membuat miris adalah bergesernya kebiasaan masyarakat desa sebagai akar rumput makanan tradisional Sunda. Saat dilakukan syukuran atau upacara adat yang menggunakan makanan jajanan pasar, masyarakat desa cenderung menggunakan plastik karena telah terpengaruh budaya instan yaitu ingin segalanya serba cepat dan mudah. Padahal, suatu upacara adat bisa kehilangan makna dan kesan karena makanan dan kemasannya sesungguhnya adalah bagian yang tak terpisahkan dari upacara adat bahkan masyarakat itu sendiri.

Read Full Post »