Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘cerita’ Category

Tantangan Kulit Telor

Oleh : Heidy Kaeni

Kulit telur adalah sejenis benda yang mungkin nggak akan pernah gue perhatiin, nggak akan pernah gue pikirin, kalau aja gue nggak punya adek yang ‘alergi’ pada benda sebiji itu.

Nggak tau darimana asal muasalnya, entah kenapa adek gue bisa jadi phobia sama yang namanya PECAHAN KULIT TELUR. Kulit telur, gitu loh. Hal jelek apa sih yang bisa kejadian? Ngelukain kulit? Belom pernah tuh, gue denger ada kejadian begitu. Ngelukain mata? Astaga. Masa sih, ada yang ketuker antara kulit telur dengan contact lens-nya! Keracunan? Coba mana kasih lihat ke gue kalo ada berita orang tewas gara-gara makan kulit telur!

Masih banyak lagi ledekan atau ejekan yang gue hujankan pada adek gue yang lucu tapi aneh itu, berkaitan dengan ketakutannya pada kulit telur. Tapi walau begitu, emang pada dasarnya gue kakak yang baik kok. Soalnya tanpa sadar, pada akhirnya gue tidak pernah mengabaikan ‘hal kecil’ itu di saat-saat yang tepat. Saat yang tepat maksud gue adalah saat di depan kompor dan melakukan penggorengan terhadap cikal bakal anak ayam yang kurang beruntung itu.

Berkaitan dengan kengerian adek gue terhadap telur eh maksud gue kulitnya, maka segala acara dapur yang ada hubungannya dengan telur selalu jadi wewenang dan tugas gue. Dan tentu, saat sedang melaksanakan tugas mulia tersebut, gue selalu berdedikasi penuh. Serius, tidak main-main, dan khidmat.
Dan hasilnya? Hohoho. Dijamin, tidak akan pernah ada pecahan kulit telur dalam masakan bertelur yang gue hidangkan…..

Hingga pada suatu hari.

Pada hari itu, gue sendirian di rumah berhubung adek tersayang sedang berkunjung ke kota sebelah. Dan tiba-tiba gue sangat menginginkan mi pake telur. Maklum, inilah salah satu jenis makanan yang paling popular di kalangan kami mahasiswa. Cepat saji, ramah dompet dan cukup nikmat walau kandungan MSG-nya dapat menurunkan kinerja otak.

Ketika mi sudah siap, tibalah giliran si telur yang dieksekusi. Cetok. Gue mengetok si ‘rumah’ calon anak ayam gagal ke tepian meja dapur. Retak. Tangan kiri menyambut, ikut membuka kulit telur agar isinya dapat keluar dengan leluasa. Cesss. Isi telur pun tiba dengan selamat di penggorengan yang sudah bermentega.
Gue menikmati pemandangan yang baru saja gue lukis di atas penggorengan. Ada danau putih dengan pulau kuning di tengahnya. Tampak bagus, sempurna, karena pecahan kulit telur pun jelas tid..

ADA.

Gue bengong. Dan setelah ngedeketin wajah ke atas pan sambil naikin kacamata yang udah merosot ke hidung….tetep, bengong.

KOK BISA, jerit gue dengan melotot marah ke arah kompor. E..eh, bukan salah gue kan, kata si penggorengan takut-takut. Bukan salah gue juga! Itu seruan si spatula yang gagah berani. APALAGI GUE, teriak si telur dengan beringas.

Gue nggak habis pikir. Kenapa, waktu gue masak telur buat adek gue, yang mana seringkali dia ada di sebelah gue, penuh khawatir memandang si telur sambil kira-kira dua puluh tujuh kali berkata “ati-ati jangan sampe kulit telurnya ikut”, gue selalu bisa melakukannya dengan sukses? Kenapa saat gue super duper santai, saat lagi nggak mikir apapun, saat nggak ada beban atau tekanan apapun, gue malah nggak bisa melakukannya dengan sempurna? Pengalaman ini jelas menentang teori orang-tidak-bisa-sukses-saat-dibebani, yang sering gue denger sejak zaman ABG (bukan angkatan babe gue.

Ternyata, ada yang bisa mengalahkan “beban”. Perkenalkan, namanya : NIAT.

Waktu memasak buat adek, dengan beban yang berjuta kali lebih besar, yang ada di benak gue cuma satu : memasak telur buat si adek, tanpa pecahan kulitnya. Waktu memasak buat diri sendiri, yang ada di benak gue…ehm, nggak ada. Nggak ada beban, tapi juga nggak ada niat sama sekali. Gimana mau sukses?!?!

Advertisements

Read Full Post »